Minggu, 27 Februari 2011

DKV 4 Branding Kawasan Wedoro

 Wedoro Trade Center salah satu dari 4 blok di Kawasan Wedoro yang menjual berbagai macam alas kaki yang tentunya "Murah Harga, Model Banyak."
 
-          Desa Wedoro ini berkembang menjadi sentra Industri kerajinan Sandal dan Sepatu sejak zaman sebelum Indonesia merdeka. Sampai akhir tahun 1980-an

-          Rata-rata penduduk aslinya merupakan pengrajin sandal, pedagang, karyawan.

-          Wedoro terdiri dari 1 Desa. 1 Pedukuhan dan 9 RW. Masing masing RW memilik nama khas yang menjadi cirri khas daerahnya misalnya :
RW 1 : Wedoro Madrasah. Karena ada Madrasah NU
RW 2 : Wedoro Sukun, dulu banyak pohon sukun
RW 3 : Wedoro Utara Barat , karena letaknya di utara sungai buntung
RW 4 : Wedoro Candi, karena ada petilasan murid Sunan Giri
RW 5 : Wedoro Masjid, karena Masjid Desa ada disitu
RW 5 RW 6 : Wedoro Tempean, dulu banyak pengrajin tempe
RW 7 : Wedoro Belahan,letaknya dibelah sungai kecil dari Wedoro
RW 8 : Wedoro Utara Timur, karena letaknya di utara sungai buntung
RW 9 : Wedoro Rewwin, Perumahan Rewwin

-          Awal tahun 2000an dari beberapa pengrajin sandal yang membuka toko di Wedoro Candi ( RW 04) ternyata disambut baik oleh konsumen yang merasa lebih dekat membeli sandal ( tidak perlu ke surabaya ) hingga akhirnya berkembang menjadi 800an toko sandal dan sepatu. Boomingnya toko juga dibarengi naiknya omzet bagi pengrajin sandal dan sepatu. Kebanyakan hasil home industri sandal wedoro adalah sandal berbahan Spon Eva.

-          Pembeli berdatangan dari luar kota bahkan luar pulau,sayang ramainya konsumun belum dibarengi dengan infrastuktur yang menunjang misalnya tidak adanya Toilet Umum dan akses jalan yang kecil membuat semrawutnya lalu lintas, juga tidak memadainya lahan parkir sehingga kendaraan di parkir di pinggir jalan yang semakin membuat kurang nyamannya suasana berbelanja di Wedoro





-          Kualitas yang jelek membuat serta model sandal yang monoton perbedaan harga yang mencolok antar toko juga menjadi catatan sendiri. Serta adanya sandal dari luar ( Bogor, Bandung, Malang, Mojokerto dan Tiongkok ) dengan harga lebih murah serta model dan kualitas yang lebih membuat sandal Wedoro kalah bersaing. Belum sendiri di internal pengusaha sandal Wedoro yang kadang terjadi persaingan harga yang kurang sehat

-          Karakter: Seperti sandal jepit berbagai karakter kartun, buah, bola, binatang, dan bunga ala Wedoro, Sidoarjo, yang dipasarkan ke berbagai wilayah Indonesia terutama Bogor dan Pasar Turi Surabaya.
-          Yang menjadi kendala para pengrajin sandal Wedoro, harga bahan baku yang tidak stabil. Jika harga bahan baku sedang tinggi, banyak pengrajin yang bekerja berdasarkan pesanan saja.

 Apalagi saat ini banyak pendatang dari luar yang mengontrak di Wedoro dan menjual sandal sepatu yang memanfaatkan nama Wedoro, harga yang di tawarkan-pun relatif lebih mahal.




Saat ini dalam usaha untuk membangkitkan usaha Wedoro menjadi seperti tahun keemasannya lagi, para pengrajin kecil setempat ( penduduk asli wedoro ) membuat sebuah Asosiasi Pengrajin Sepatu Sandal Waru ( Aprissura ) yang di gadang - gadang menjadi cikal bakal bangkitnya kembali wedoro. Dengan visi yaitu mensejahterakan masyarakat pengrajin kecil sandal dan sepatu Wedoro. Mereka memiliki slogan "Sandal Murah, Model Banyak."
Memang mereka belum pernah punya media promosi digital, tetapi mereka sempat melakukan pameran di Pekalongan dan hasilnya sangat bagus, mereka dari Aprissura banjir pesanan terutama dari Bogor Bandung dan sekitarnya. Mereka berencana membuat merk asli dari Wedoro bernama ISAWA ( Ikatan alas kaki Waru ). Namun belum banyak mereka memikirkan strategi komunikasi visual kedepan, oleh karena itu kami akan berusaha menjadikan ini sebagai lebih dari tugas bahkan proyek sekalipun, aminn :))


Tidak ada komentar:

Posting Komentar